Wadah Pemersatu Keragaman bersama Open Mic Stand Up Comedy Jabodetabek


Isu SARA kerap menjadi hal sensitif yang beberapa kali melukai bangsa ini. Salah satu yang paling sensitif adalah relasi antara Etnis Cina dengan warga pribumi di Indonesia. Sebenarnya membuat dikotomi ini pun sudah kurang tepat, dan parahnya dikotomi ini malah sempat dibakukan dengan sebuah stigma yang melekat sampai hari ini dengan istilah WNI dan WNI keturunan. Sebelum bicara lebih lanjut, gua lebih suka memakai istilah Etnis Cina dibanding ‘warga keturunan’. Eufimisme ‘warga keturunan’ justru malah membuat jurang pemisah semakin lebar. Mari kita kembalikan arti kata ‘Cina’ ke tempat terhormat, sama halnya dengan kita memakai istilah Orang Jawa, Batak, Sunda, Manado, dll.

Setelah tragedi yang menimpa Etnis Cina di 1998, baru pada era Gus Dur ada usaha pemerintah untuk memperbaiki hal ini. Pemerintah akhirnya mengakui Konfusianisme sebagai agama resmi di Indonesia dan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Sebuah pencapaian luar biasa dalam kehidupan bangsa ini dalam hal penghargaan terhadap HAM.

Sebelumnya di era Orde Baru, disengaja atau tidak, pemerintah malah memperlebar jurang ini. Stigma Cina sebagai penjahat ekonomi Indonesia semakin melekat, peran Etnis Cina dalam pemerintahan pun dibatasi. Ini membuat seolah-olah ada permusuhan. Belum lagi peraturan-peraturan tidak penting yang mengharuskan warga Etnis Cina memakai nama-nama ‘pribumi’.

Orang Cina dipaksa menggunakan nama-nama ‘pribumi’ seperti: Suripto, Sudono, dll. Ini jelas pemaksaan kehendak. Kita sepakat bahwa penyeragaman gagasan, apalagi membatasi pemilihan nama, adalah ciri masyarakat tertinggal. Bayangkan ada Orang Batak dengan nama Jawa, misalnya: Gondokusumo Sitorus. Terdengar aneh.

Malam itu, Selasa, 7 Feb 2012, semuanya cair di Icera Cafe. Sebuah Cafe di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Malam dimana diselenggarakan open mic perdana untuk wilayah Jakarta Utara. Kelapa Gading yang adalah area di Jakarta yang banyak dihuni warga Etnis Cina, menjadi tuan rumah penyelenggaraan open mic, dan comic-comic dari seantero Jabodetabek ikut meramaikan acara open mic perdana ini. Khrisna Harefa, seorang comic yang juga salah satu penggerak Stand Up Comedy Jakarta Utara menjadi host dalam acara ini.

Ernest Prakasa lebih ‘heboh’ lagi. Seolah ‘pulang kampung’ karena crowd yang sebagian besar Etnis Cina, Ernest membabi-buta dengan materi dia tentang Etnis Cina. Tawa penonton pecah, kata-kata yang lugas cenderung blak-blakan malah membuat suasana semakin cair.

Ence Bagus dan Adjis semakin menjadi-jadi. Ence mengaku juga punya darah Cina, pernyataan ini disambut gelegar tawa penonton karena warna kulit Ence tidak mencerminkan hal itu. Adjis semakin membuat suasana cair karena dari beberapa penonton ada wanita Muslim yang berjilbab. Adjis, dengan keahlian riffing-nya, mengeluarkan statemen bahwa acara ini sudah mendapat restu ilahi karena kehadiran wanita-wanita berjilbab ini. Penonton sontak tertawa.

Bicara hal yang sensitif ternyata membuat batas-batas kaku yang ada selama ini mampu diterobos, suasana menjadi cair.

Malam itu, wajah-wajah sipit khas Etnis Cina duduk berdampingan dengan wanita-wanita berjilbab, menertawakan kehidupan. Sungguh malam yang mengesankan dan Stand Up Comedy sebagai sebuah seni pertunjukan sudah menjalankan tugasnya dengan sempurna, bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga wadah pemersatu keragaman.

Viva La Komtung!

Kontributor: Sam (@notaslimboy)

Previous It's a Blue Nite In Stand Up Comedy by @StandUpIndo
Next Never Underestimate The Power of Diction”