Never Underestimate The Power of Diction”


Ernest Prakasa adalah seorang pelawak tunggal Indonesia. Ia dikenal sejak meraih peringkat ketiga dalam acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) pada 2011 dan juga dikenal sebagai seorang komedian Tionghoa-Indonesia yang sering menjadikan kehidupan etnisnya sebagai materi komedi tunggal.

Diksi adalah pemilihan kata dan penyusunan kata dalam kalimat dalam sebuah naskah, termasuk di dalamnya naskah komedi.Sebuah materi stand-up comedy boleh jadi lucu, diksi membuatnya lebih tajam. Saat melempar punchline pilihlah kata yang yang ear-cathcy, kalau bisa nyeleneh atau bahkan kontroversial.

Sammy pernah membawakan sebuah bit tentang kemacetan dan hubungannya dengan pedagang asongan. Kita tahu, bahwa jenis barang/makanan yang dijual oleh pedagang asongan itu banyak, namun Sammy mengambil contoh ‘gemblong’ dalam bit-nya. Gemblong ketika diucapkan terdengar lucu, membuat bit-nya tentang kemacetan lebih tajam.

Contoh lain adalah Acho Muhadkly dengan bit-nya tentang ‘toilet masa depan’. Acho tidak menggunakan kata ‘toilet’ melainkan dia memilih ‘jamban’. Kata ini semakin menguatkan posisi Acho sebagai pakarnya lelucon ‘tongkrongan’ yang ‘Betawi banget’. Apalagi dalam kalimat lengkap Acho menambahkan kata ‘evolusi’.

Kalimat setup Acho dalam bit ini berbunyi: “Jamban, mengalami evolusi.” Kalimat ini lucu, karena pemilihan katanya menggabungkan antara bahasa sehari-hari dengan bahasa ilmiah, jenis diksi: kontradiksi. Dengan diksi yang tepat bahkan sebuah setup sudah memancing tawa.

Diksi juga bisa dipakai untuk menggambarkan dialek daerah tertentu. Seperti Orang Batak yang jarang sekali memakai kata ‘bagaimana’, mereka lebih suka ‘macam mana’.Mongol pernah berkisah tentang Orang Batak yang bermain judi dan ‘mirit kartu’ lama sekali.

“Waktu gua bawain materi tentang ‘gemblong’, gua perhatiin dari atas panggung ada orang yang ngakak banget saat gua sebut kata itu, lalu gua baca bibirnya dia nanya ke sebelahnya, “Gemblong apaan sih?” “ –Sammy D. Putra

Setelah itu kartu yang didapat ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mongol kemudian menggunakan kata ‘MELESET’ (dengan aksen Batak), penonton sontak tertawa. Pemilihan kata ‘MELESET’ ini sangat tepat, karena seperti kita ketahui Orang Batak mempunya ke-khas-an dalam menguncapkan vokal ‘e’. Lain halnya apabila yang dipilih adalah kata ‘GAGAL’, maka situasi tadi tidak tergambar dengan sempurna.

Diksi bisa meningkatkan rasa/feel dalam bit yang dibawakan. Untuk terlihat lebih nakal, Sammy mengganti kata ‘keperawanan’ dengan ‘selaput dara’. Atau Ence Bagus yang menggunakan kata ‘colokan’ dengan untuk menyatakan sumber listrik. Kata ‘colokan’ yang dipilih Ence bisa diarahkan ke hal-hal yang ‘menjurus’ sehingga materi terlihat lebih nakal.

Chris Rock, seorang comic Amerika, bahkan membedakan antara kata fellatio dengan blow job, walaupun keduanya mengacu pada kegiatan yang sama yaitu : oral seks.

Previous Wadah Pemersatu Keragaman bersama Open Mic Stand Up Comedy Jabodetabek
Next Sambutan Ketua Baru @StandupIndo: Sebuah Giliran yang Diterima dengan Hangat